BATU PERUPUN
Batu Pelupun: Jejak Cerita Leluhur di Desa Long Rian
Desa Long Rian, Krayan Tengah — Di balik keindahan
alam pedalaman Krayan, terdapat sebuah peninggalan yang menyimpan cerita
panjang dari masa lampau. Masyarakat Desa Long Rian menyebutnya Batu Pelupun,
sebuah tumpukan batu yang sejak zaman nenek moyang telah menjadi bagian dari
identitas budaya dan sejarah setempat.
Asal Usul Batu Pelupun
Menurut cerita turun-temurun, Batu Pelupun diyakini
dikumpulkan oleh leluhur sejak zaman batu, jauh sebelum adanya catatan sejarah
tertulis di wilayah Krayan. Pada masa itu, masyarakat leluhur hidup sangat
dekat dengan alam, dan batu-batu tertentu dianggap memiliki fungsi serta nilai
simbolis.
Para tetua adat Desa Long Rian mewariskan kisah bahwa
tumpukan batu ini bukanlah tumpukan yang terbentuk secara alami. Batu-batu
tersebut dikumpulkan dan disusun oleh nenek moyang, baik sebagai penanda
tempat, simbol kekuatan, maupun bagian dari kegiatan hidup mereka di masa
prasejarah.
Makna Budaya bagi Masyarakat Long Rian
Hingga hari ini, Batu Pelupun tetap menjadi bagian
dari identitas budaya Desa Long Rian. Masyarakat percaya bahwa tumpukan batu
itu adalah bukti nyata bahwa desa tersebut telah dihuni sejak zaman nenek
moyang, menjadikannya situs sejarah lokal yang memiliki nilai penting dalam
budaya adat.
Batu Pelupun dipandang sebagai:
Jejak kehidupan awal masyarakat yang tinggal dan
beraktivitas di wilayah Long Rian.
Saksi sejarah yang menyimpan cerita leluhur dari
generasi ke generasi.
Simbol hubungan antara manusia dan alam, sebagaimana
kehidupan masyarakat Krayan yang selalu menjaga harmoni dengan lingkungan.
Meski tanpa catatan arkeologi resmi, cerita yang
diwariskan secara lisan tetap menjadi pegangan utama masyarakat untuk memahami
asal-usul Batu Pelupun.
Peran Cerita Turun Temurun
Dalam tradisi masyarakat adat, pengetahuan diwariskan
melalui cerita lisan, dan Batu Pelupun adalah salah satu kisah yang tetap
bertahan hingga kini. Anak-anak dan generasi muda desa tumbuh dengan cerita
ini, sehingga batu tersebut tidak hanya menjadi objek fisik, tetapi juga
warisan nilai dan identitas yang menghubungkan mereka dengan masa lalu.
Para tetua adat menganggap bahwa menjaga cerita Batu
Pelupun berarti menjaga sejarah dan jati diri desa, sebab setiap batu yang
tersusun merupakan bagian dari perjalanan panjang masyarakat Long Rian.
Harapan untuk Masa Depan
Masyarakat berharap bahwa Batu Pelupun dapat terus
dilestarikan, tidak hanya sebagai tumpukan batu tua, tetapi sebagai:
Warisan budaya yang dihormati,
Situs lokal yang dijaga keasliannya, dan
Identitas sejarah Desa Long Rian yang dapat
diceritakan kepada generasi berikutnya.
Ke depan, Batu Pelupun memiliki potensi untuk
diperkenalkan lebih luas sebagai bagian dari kekayaan sejarah Krayan Tengah.
Batu Pelupun bukan sekadar tumpukan batu, tetapi simbol perjalanan leluhur, refleksi masa lalu, dan kebanggaan masyarakat Desa Long Rian. Kisah yang diwariskan secara turun-temurun menjadikan batu ini sebagai saksi bisu kehidupan nenek moyang yang terus dihormati hingga kini.
Baca juga:
"Bapak Markus Musa: Menjaga Tradisi, Meningkatkan Ekonomi, dan Mengembangkan Budidaya Madu Kelulut d
"Bapak Markus Musa: Menjaga Tradisi, Meningkatkan Ekonomi, dan Mengembangkan Budidaya Madu Kelulut d